Dampak Stress Kronis pada Kesehatan

Disease or Dis-ease?
Masih adakah yang beranggapan bahwa dampak stress pada kesehatan hanya imaginasi belaka, atau menganggap stress hal sepele, dan semata-mata hanya masalah psikis?

Mari kita lihat pengaruh stress secara fisiologis.
Ketika seseorang stress, yang terjadi umumnya otot menjadi tegang, meningkatnya sekresi hormon-hormon stress seperti kortisol, adrenalin, dan norepineferin yang mengakibatkan meningkatnya gula darah, denyut jantung dan tekanan darah, nafas memburu, pencernaan melambat, dll.
Jaman dulu, ketika bahaya mengancam misalnya diserang binatang buas, mekanisme ‘fight or flight’ memang relevan dan dibutuhkan sebab harus menyelamatkan diri.  Tapi di jaman modern ini, bahaya datangnya dari bos yang galak, dikejar deadline, macet di jalan, bertengkar dengan pacar, rapor anak merah, hutang kartu kredit, persaingan di tempat kerja, dll.  Dan ini terjadi setiap hari, dari pagi sampai malam.

Sebetulnya stress itu ada untungnya, apabila terjadinya hanya sesekali, dan terlebih lagi bila itu stress yang sehat. Stress yang sehat dibutuhkan untuk bertumbuh dan maju. Namun bila berkepanjangan, tubuh kita akan kewalan karena dibanjiri oleh hormon stress.

Dampak buruk stress bagi kesehatan ternyata tidak hanya pusing dan migrain, diantaranya adalah:
  • 80% sistem imun, 40% getah bening dan 90% serotonin terletak pada pencernaan; stress mengacaukan sistem imun; maka stress berkepanjangan (kronis) memicu lingkaran setan berbagai penyakit degeneratif dan depresi.
  • Berbagai penelitan menemukan bahwa stress meningkatkan inflamasi sistemik yang berakibat meningkatnya resiko jantung koroner (21 kali lipat), diabetes tipe 2, Alzheimer, Parkinson, Kanker, Osteoporosis dan Autoimmune.  Ditemukan bahwa penderita autoimune (sekitar 80%) mengalami stress sebelum didiagnosa  autoimmune.  Buruknya lagi, penyakit itu sendiri akan memicu seseorang menjadi lebih stress lagi (lingkaran setan).
  • Penyerapan vitamin dan mineral tidak optimal, enzim pencernaan menurun, sedangkan kebutuhan tubuh akan berbagai gizi mikro seperti kalsium, magnesium, vitamin B, dll meningkat.
  • Saat tubuh dalam ‘fight or flight’ mode, pencernaan akan ‘shut down’,  mengakibatkan berbagai masalah pencernaan; gastritis, sembelit, diare, mulas, kram, dll.
  • Tubuh mudah terkena infeksi, sering alergi, dan jika sakit atau luka, lama sembuhnya.
  • Pola makan berubah; menjadi tidak nafsu makan atau justru pelarian dengan mengkonsumsi junk food berlebihan (stress eater).
  • Meningkatnya resiko obesitas.
  •  Memicu radang pada berbagai persendian, biasanya leher,bahu, punggung, dll (arthritis).
  • Respon kognitif terganggu, sulit berkonstrasi, mudah lupa, timbul pikiran-pikiran yang tidak wajar.
  • Mudah bingung, cemas, jengkel, marah meledak-ledak, panik bahkan kehilangan kepercayaan diri hingga depresi.
  • Mengalami gangguan tidur (sleep disorder), insomnia, tidur berlebihan, dll.
  • Memicu berbagai masalah kulit seperti jerawat, eksim, dll.
  • Memicu addiction, eating disorder ataupun sindrom kelelahan kronis.
UPAYA UNTUK ME-MANAGE STRESS

Sudah waktunya kita melihat spirit-mind-body connection.  Sebetulnya bukan ‘stress’ itu sendiri yang menjadi isunya, melainkan bagaimana respon kita dalam menghadpi masalah lah yang menentukan kualitas hidup kita.

  •  Kembangkan kebiasaan untuk bersyukur, melatih mindfulness, meditasi, dan relaksasi.
  • Tertawa dan tersenyum lebih sering.
  • Aktif bergerak, olah raga rutin (harus enjoy).
  • Mencari support dari keluarga, teman dan komunitas yang positif (berpelukan selama 20 detik ternyata memperbaiki sistem imun, tekanan darah dan detak jantung).
  • Luangkan waktu menikmati dan menghargai alam, outdoor, sinar matahari.
  •  Perbaiki pola tidur (jika perlu melakukan terapi).
  •  Breathing exercise.
  • Ada banyak terapi untuk stress release (progressive muscle relaxation, CBT, TAT, EFT, TRE, energy healing, acupuncture, yoga, dsb), pilih yang cocok.
  •  Luangkan waktu serius untuk mencari akar masalah stress.
  • Menulis jurnal dan berlatih mengubah persepsi terhadap stress (reframing thinking & belief).
  •  Memperbaiki pola makan.
  • Kurangi rokok, alcohol dan stimulan (kopi, teh).
  •  Herbal dan essential oil yang tepat dapat membantu mengurangi dampak buruk stress.
POLA MAKAN UNTUK BANTU ATASI STRESS
  • Perbanyak konsumsi makanan utuh alami, khususnya sayuran bewarna warni.
  • Upayakan menyelipkan raw food dalam keseharian.
  • Konsumsi protein secukupnya namun yang berkualitas.
  • Jauhi processed food (instan, kemasan, junk food); hindari pengawet, perasa, pemanis buatan, pewarna, GMO dan minyak trans.
  • Hindari makanan pemicu alergi dan sensitivity (berbeda tiap orang).
  • Batasi gula dan karbohidrat.
  • Konsumsi minyak sehat (kelapa, zaitun, alpukat), dan omega 3 (nabati maupun hewani) seperti chia seed, minyak ikan dari sumber berkualitas, walnut, flaxseed, dll.
  • Perbanyak asupan makanan tinggi vitamin dan mineral, khususnya vitamin C, vitamn B, magnesium, kalsium, seng, serta antioksidan.
  • Perbanyak konsumsi makanan probiotik.

 

Narasumber Diskusi :
Susan Hartono, MSc, CHt
Dewan Pembina Marisza Cardoba Foundation

I LOVE TO LEARN 
WAG KELUARGA LDHS-MCF
Sabtu, 9 Desember 2017
Jam 16.00-18.00 WIB

LDHS Pilar no. 4 : Terus Belajar

Leave a comment