MAKANAN SEHAT, UTUH, DAN ALAMI

Makanan yang sehat adalah makanan yang utuh dan alami (natural ataupun yang diproses secara minimal tidak agresif), tidak mengandung zat berbahaya, sebisanya bebas dari zat aditif/buatan, tinggi kandungan gizinya, dan yang dipersiapkan dari hati yang berbahagia.

Makanan utuh dan alami, sering kali dikenal dengan istilah “whole food”. Istilah whole food digunakan untuk menekankan bahwa makanan utuh adalah bukan makanan olahan pabrik (yang biasanya secara masal) ataupun laboratorium yang sering disebut processed food. Processed food ala pabrik atau laboratorium sering melibatkan proses refining, yaitu penghilangan atau pengurangan bagian makanan secara teknologi (yang sebetulnya bisa dimakan) karena dianggap mengganggu rasa, estetika penyajian, dan membuat makanan tidak tahan lama. 

Yang termasuk whole food adalah:

  • Produk tanaman utuh yang raw ataupun yang dimasak/dipersiapkan/diolah secara minimal saja (homemade)
  • Produk hewani yang tanpa hormon, tanpa antibiotik dan bebas cemaran yang dimasak sepenuhnya saja khususnya grass fed.

Yang bukan seluruh makanan adalah:

Makanan instan, makanan cepat saji, daging olahan, makanan mengandung berbagai zat aditif (pengawet, pewarna, perasa, pemanis buatan dan berbagai bahan sintetis), makanan yang mengandung minyak trans dan minyak hidrogenasi, yang diolah dengan penambahan gula sangat banyak, yang diputihkan, makanan kalengan, makanan yang lama sekali atau berkali-kali lipat dengan pemanasan yang sangat tinggi, dan makanan lain yang sudah berkurang nilai gizinya secara signifikan.  

Sangat disayangkan gaya hidup modern saat ini justru merupakan penyumbang berbagai masalah kesehatan.  Tidak dapat dipungkiri tentang kehidupan modern yang memudahkan manusia dalam berbagai hal, banyak hal menjadi relatif lebih cepat, efektif dan nyaman.  Namun ternyata gaya hidup modern ini sering disalahgunakan, seperti banyak orang memilih fast food, junk food, makan serba manis, dan malas bergerak, belum lagi ditambah dengan merokok, minum alkohol, penggunaan gadget yang berlebihan, tidur larut malam, terlalu lama duduk di belakang komputer, jarang berada di luar (luar) menikmati alam dan terpapar sinar matahari, serta banyak minum stimulan seperti kopi atau teh.  Karena kesibukan dan banyaknya kaum perempuan yang juga bekerja, sering kali kaum muda perlu tidak memiliki waktu untuk memasak makanan sehat. Alhasil pola makan mereka adalah monoton, serba instan dan empty food (rendah gizi).  Manusia modern tidak lagi memiliki mindset mencegah, tetapi memilih minum obat-obatan jika sudah terlanjur sakit, didera berbagai macam stres kehidupan dan mengalami krisis spiritual. WHO menemukan bahwa 60% kondisi kesehatan fisik maupun mental dipengaruhi oleh lifestyle nya. 

Apabila kita membahas pola makan sehat, hal lain yang juga tidak akan luput adalah bahasan seputar manfaat konsumsi bahan pangan ‘organik’ dan non GMO (Genetically Modified Organism). Bahan pangan organik adalah bahan pangan nabati maupun hewani yang ditanam dan diproduksi hingga dipanen atau diambil hasilnya tanpa pestisida (fungisida, herbisida, insektisida), pupuk kimia sintetis, pakan aditif dan zat lainnya yang tidak alami, serta yang bukan dari bibit rekayasa genetik.

Manfaat mengonsumsi bahan pangan organik: 

  • Mengandung lebih sedikit pestisida
  • Mengandung lebih sedikit zat aditif, hormon maupun logam berat seperti cadmium
  • Tidak mengandung antibiotik
  • Lebih lezat dan segar
  • Mengandung nilai gizi lebih tinggi
  • Lebih ramah lingkungan

Bahan pangan dengan bibit GMO atau pangan rekayasa genetika (PRG) adalah bahan pangan yang DNA nya (materi genetiknya) telah dimodifikasi secara bioteknologi modern atau bioteknologi DNA rekombinan, yang sering disebut transgenic, atau mutasi genetik. Proses ini bukanlah modifikasi secara alami, tetapi dilakukan di laboratorium antar spesies, misalnya DNA bakteri, virus, hewan ataupun suatu tanaman direkomendasikan dengan DNA bahan pangan yang ingin diubah. Per tahun 2016, telah terdapat 38 negara (19 Uni Eropa) menolak PRG. 

Dampak negatif PRG telah ditemukan dari berbagai penelitian, diantaranya adalah meningkatnya insiden leaky gut (meningkatkan permeabilitas usus yang meningkatkan resiko munculnya berbagai penyakit kronis seperti autoimmune, autism, depresi, schizophrenia, dll) dan alergi, resistensi antibiotika, berkurangnya zat gizi pada makanan transgenik, timbulnya virus dan bakteri baru, dan meningkatnya penggunaan pestisida, khususnya herbisida Roundup yang memberikan efek racun pada tubuh. PRG sendiri banyak yang bersifat pestisida dan research mendapati adanya peningkatan insiden penyakit kanker seiring dengan meningkatnya pangan hasil mutasi genetika.

Contoh pangan PRG adalah jagung, kedelai, kanola, gula bit, pepaya (Hawaii), tomat, daging, dan susu yang sapinya diberi hormon rBGH, alfalfa, labu, kapas, dan tampaknya dampak pangan transgenik masih terus bertambah. Produk turunan yang dibuat dari bahan pangan transgenik tersebut tentu juga menjadi makanan transgenik.

Mikrobioma sangat berperan dalam status nutrisi, kesehatan maupun kebahagiaan seseorang. Penelitian menemukan bahwa tubuh manusia merupakan rumah dari 10-100 trilliun mikrobioma, dengan berat sekitar 2-3 kg. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan mikrobioma usus perlu dijadikan prioritas, yaitu dengan rutin mengkonsumsi makanan probiotik dan prebiotik.

 

Romansa Rempah Indonesia, hal; 33-40 (Hidup Harmonis Dengan Alam & Konsumsi Makanan Sehat Alami, Susan Hartono M.Sc, C.Ht.)

Leave a comment