Reaksi autoimun adalah suatu respons imun yang menyerang sel, jaringan atau organ tubuh sendiri. Hal ini akibat karena kurangnya atau tidak mampunya sel-sel kekebalan tubuh antara komponen tubuh sendiri atau komponen dari luar yang menyerang tubuh. Akibatnya bila ada musuh dari luar, bisa berbentuk kuman atau zat asing, tubuh akan melawan melalui respons kekebalan tubuh yang ditujukan terhadap musuh tersebut. Bila struktur jaringan musuh mirip dengan jaringan tubuh maka jaringan tubuh juga diserang.

Untuk lebih memahami penyakit autoimun anak anda, uraian di bawah ini dapat membantu untuk mengetahui secara umum bagaimana sistem kekebalan tubuh bekerja:

Setiap makhluk yang lahir dibekali suatu sistem kekebalan tubuh oleh Sang Pencipta baik dari makhluk yang sangat sederhana yaitu binatang bersel satu seperti amuba sampai makhluk yang paling sempurna seperti manusia. Tingkat kekebalan tubuh juga bervariasi dari yang sangat sederhana sampai bentuk kekebalan yang kompleks seperti pada manusia.

Secara garis besar sistem kekebalan tubuh manusia dibagi 2 jenis yaitu:

  • Kekebalan tubuh yang tidak spesifik
    Disebut tidak spesifik karena sistem kekebalan tubuh ini ditujukan untuk menangkal masuknya segala macam zat dari luar yang asing bagi tubuh yang dapat menimbulkan kerusakan tubuh/ penyakit seperti  berbagai macam bakteri, virus,  parasit atau zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Termasuk sistem kekebalan atau pertahanan tubuh yang tidak spesifik ini misalnya pertahanan fisik (kulit, selaput lendir), kimiawi (enzim, keasaman lambung), mekanik (gerakan usus, rambut getar selaput lendir), fagositosis (penelanan kuman/zat asing oleh sel darah putih) serta zat komplemen yang berfungsi pada berbagai proses pemusnahan kuman/zat  asing.

Kerusakan pada sistem pertahanan ini akan memudahkan masuknya kuman/zat asing ke dalam tubuh. Misalnya kulit yang luka, gangguan keasaman lambung, gangguan gerakan usus atau gangguan proses penelanan kuman/ zat asing oleh sel darah putih (sel leukosit).

  • Kekebalan tubuh spesifik
    Bila masuknya kuman/zat asing tidak dapat ditangkal oleh daya tahan tubuh  yang tidak spesifik seperti yang telah dijelaskan di atas, maka diperlukan sistem kekebalan tubuh dengan tingkat yang lebih tinggi atau spesifik untuk mencegah masuknya kuman- kuman tertentu yang lolos dari pertahanan tubuh yang tidak spesifik.Ada 2 jenis kekebalan tubuh yang berperan pada kekebalan yang spesifik ini yaitu:
    Kekebalan selular dan kekebalan humoral. Kekebalan ini hanya berperan pada kuman/zat asing yang sudah dikenal artinya bila jenis kuman/zat asing tersebut sudah lebih dari satu kali masuk ke dalam  tubuh manusia.

    Sel-sel yang berperan pada sistem kekebalan tubuh:

    Sel limfosit

    Ada 2 jenis sel limfosit yaitu sel limfosit T dan sel limfosit B.

    Sel limfosit mempunyai peran pada kekebalan terutama terhadap infeksi yang menyerang ke dalam sel tubuh. Sel limfosit T4 (CD4) atau sering disebut sebagai sel limfosit T helper mempunyai peran utama dalam mengatur reaksi kekebalan tubuh. Pada penyakit AIDS sel ini rusak karena virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyebabkan rontoknya sistem kekebalan tubuh manusia. Sel limfosit T8 (CD8) yang juga disebut sel T supressor mempunyai peran dalam menekan sistem kekebalan tubuh yang berlebihan supaya tidak merusak tubuh sendiri. Sel limfosit B mempunyai peran dalam pembentukan antibodi yang dalam pembentukannya diatur oleh  sel limfosit T. Selain sel limfosit T dan sel limfosit B ada jenis di antaranya yaitu sel limfosit non T dan non B yang disebut sel Natural Killer (sel pembunuh jasad renik alami).

    Sel fagosit (sel penghancur jasad renik/mikroba)

    Sel ini berfungsi mengancurkan mikroba yang menyerang tubuh kita. Ada beberapa jenis sel fagosit yaitu sel leukosit berinti banyak, sel eosinofil serta sel monosit/makrofag. Sel eosinofil mempunyai peran terutama dalam penghancuran parasit (misalnya cacing) serta peran dalam reaksi alergi.

    Sel basofil dan sel mast

    Sel-sel ini mengandung zat histamin dll. yang bila sel ini pecah zat ini akan dikeluarkan dan menimbulkan gejala alergi pada organ tubuh misalnya kulit (biduran, eksim), saluran napas (asma), mata (radang mata alergi), hidung (pilek alergi), saluran cerna (diare). Pecahnya sel-sel tersebut disebabkan masuknya zat penyebab alergi (alergen) misalnya makanan (seafood, susu sapi, telur dll.), tungau debu rumah atau pengaruh  lingkungan (udara dingin, panas dll).

    Komponen sistem kekebalan tubuh

Secara garis besar komponen sistem kekebalan tubuh terdiri atas:

A. Sistem kekebalan humoral

Sistem kekebalan ini terdiri dari 5 jenis antibodi (imunoglobulin) yaitu  imunoglobulin  M, G, A, E dan  D.

Imunoglobulin M:

Antibodi ini berperan pada reaksi kekebalan awal misalnya terhadap penyakit infeksi tahap awal. Antibodi ini tidak dapat ditransfer dari ibu ke janin melalui plasenta (ari-ari).

Imunoglobulin G :

Berperan pada reaksi kekebalan sekunder (lanjutan).

Imunoglobulin A :

Terdapat pada permukaan selaput lendir misalnya saluran cerna atau         saluran napas. Berfungsi menangkal masuknya kuman atau zat berbahaya lain dari luar  yang masuk melalui saluran tersebut.

Imunoglobulin E :

Imunoglobulin ini menempel pada sel mast (lihat di atas) yang bila berikatan dengan zat asing akan menyebabkan pecahnya sel mast, yang mempunyai fungsi untuk menimbulkan reaksi peradangan yang bertujuan untuk memusnahkan kuman atau zat berbahaya dari luar. Pada penderita yang sensitive, reaksi ini berlebihan yang disebut reaksi alergi yang menimbulkan gejala alergi di berbagai organ tubuh misalnya gejala asma di paru, eksim di kulit dan lain-lain.
Imunoglobulin ini juga berperan dalam pemusnahan penyakit parasit lain bekerjasama dengan sel eosinofil (lihat di atas).

Imunoglobulin D :

Kadarnya sangat kecil dan fungsinya belum jelas.

B. Sistem kekebalan selular (Imunitas selular)

Diperankan oleh sel limfosit T dan sel monosit/makrofag. Untuk    melaksanakan fungsinya, sel kekebalan akan berhubungan satu sama lain (kontak antar sel) melalui zat yang disebut sitokin yang diproduksi oleh sel terkait.

Dalam mekanisme pertahanan tubuh, kekebalan selular ini berperan pada  infeksi kronik terutama infeksi kuman yang berada dalam sel misalnya tbc, virus serta infeksi parasit misalnya infeksi jamur dan lain-lain.

C. Proses fagositosis

Telah disebutkan di atas, yang dimaksud dengan proses fagositosis adalah proses penghancuran mikroorganisme oleh sel leukosit (sel darah putih). Proses ini melalui 3 tahap, yaitu dimulai dengan bergeraknya sel leukosit ke tempat kuman berada, pengikatan kuman oleh antibodi, serta pengeluaran enzim oleh leukosit untuk menghancurkan kuman yang sudah ditelan. Bila salah satu tahap ini terganggu, maka manusia akan mudah terkena penyakit karena kegagalan pemusnahan kuman tersebut.

D. Sistem komplemen

Sistem ini mempunyai peran memperkuat pertahanan tubuh spesifik dan non spesifik yang telah disebutkan di atas.

Dalam penyakit autoimun, sistem kekebalan adaptif atau spesifik  secara keliru mulai menyerang sel sehat dan jaringan tertentu – dan gagal mematikan serangan itu. Ini berbeda dengan malfungsi sistem kekebalan lainnya, seperti kelainan imunodefisiensi yang didapat, seperti AIDS, di sini sistem kekebalan tubuh melemah atau tidak efektif. Atau pada penyakit  alergi,  sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap zat asing (serbuk sari, misalnya).

Pada penyakit autoimun,  ini bisa mengenai organ tertentu seperti sendi pada Juvenile Idiopathic Arthritis  (JIA) , suatu radang sendi pada anak yang belum diketahui penyebabnya, atau bisa mengenai semua jaringan tubuh seperti Systemic Lupus Erythematosus (SLE).

Penyebab penyakit autoimun
  • Herediter : Seorang anak mewarisi gen tertentu dari orang tuanya yang membuatnya rentan terhadap penyakit tertentu.
  • Faktor lingkungan: walaupun punya bakat genetik, penyakit ini tidak akan muncul kalau tidak ada pencetusnya seperti infeksi, zat-zat yang berbahaya dari luar dan lain-lain.
  • Faktor hormonal: Mengingat bahwa banyak penyakit autoimun cenderung mengenai remaja perempuan dan wanita muda, adanya  atau jumlah hormon tertentu dalam tubuh juga dapat berperan saat penyakit ini muncul.Para peneliti  sekarang bekerja untuk menemukan gen mana yang terlibat dan bagaimana mereka berinteraksi – dan juga menyelidiki sejumlah pemicu hormonal dan lingkungan yang potensial – untuk tujuan menemukan pengobatan yang tepat nantinya.
    Siapa yang berisiko terkena penyakit autoimun?
  • Jenis kelamin: Wanita hampir tiga kali lebih banyak dibanding  laki-laki untuk menderita penyakit autoimun. Remaja putri dan wanita muda juga berisiko tinggi.
  • Usia: Sebagian besar penyakit autoimun mengenai orang muda dan setengah baya.
  • Genetik: Bila riwayat keluarga ada yang menderita penyakit autoimun akan meningkatkan risiko untuk terjadinya penyakit autoimun pada anak. Sebenarnya, diperkirakan sekitar sepertiga dari risiko terkena penyakit autoimun,  terkait dengan sesuatu kelainan pada gen anak.
    Ras: Beberapa laporan menunjukkan bahwa anak-anak dari berbagai ras mungkin lebih rentan terhadap penyakit autoimun tertentu. Orang Afrika-Amerika, misalnya, tampaknya lebih cenderung mudah kena  daripada orang Kaukasia untuk terjadinya lupus (SLE) dan skleroderma.
  •  Penyakit lain: Anak dengan satu penyakit autoimun cenderung berisiko tinggi mengembangkan yang lain. Misalnya, anak-anak dengan diabetes tipe 1 tampaknya lebih rentan terkena penyakit celiac atau penyakit Addison.

    Tanda dan gejala penyakit autoimun

    Gejala yang paling umum pada penyakit autoimun cenderung tidak spesifik , yang berarti dapat disebabkan oleh beberapa penyakit non-autoimun juga. Hal ini dapat membuat lebih sulit bagi dokter untuk mendiagnosis penyakit anak anda, dan mengapa anak anda mungkin juga memerlukan sejumlah tes untuk lebih memastikan.

    Tanda-tanda bahwa anak anda mungkin mengalami masalah dengan sistem kekebalan tubuhnya meliputi:

  •  Demam ringan
  • Kelelahan atau kelelahan menahun,
  • Pusing
  • Penurunan berat badan
  • Ruam dan lesi kulit
  • Kekakuan di sendi
  • Rambut rapuh atau rambut rontok
  • Mata kering dan / atau mulut
  •  Perasaan “tidak sehat” umumBerulang demam, kelelahan, ruam, penurunan berat badan dan sebagainya bukanlah berarti  bahwa anak anda pasti memiliki penyakit autoimun, tapi itu berarti ada sesuatu yang membuatnya sakit dan memerlukan perhatian medis. Anda harus membawanya ke dokter spesialis anak, yang akan mengarahkan anda ke spesialis-kemungkinan seorang rheumatologist anak-anak-jika ada dugaan penyakit autoimun.

    Penyakit autoimun yang sering pada anak adalah, SLE (paling berat dan sulit sembuh sering menimbulkan kematian), JIA (bisa ringan sampai berat, pengobatannya lama), serta Henoch Schonlein Purpura (HSP) yang paling ringan tapi hati-hati komplikasi ke ginjal.

    Dapatkah penyakit  autoimun dicegah?
    Sejauh ini, belum ada cara untuk menghentikan penyakit autoimun sebelum muncul. Tapi pencegahan tetap menjadi tujuan jangka panjang – terutama karena penyakit  autoimun merupakan penyakit yang berbahaya yang sulit untuk dihentikan begitu penyakit dimulai.

Ada tiga tantangan para ahli dalam pencegahan penyakit autoimun :

1. Mengenali pola genetik spesifik orang yang rentan terhadap penyakit autoimun

2. Menekankan pada faktor lingkungan (virus, toksin, dll) yang dapat memicu penyakit

3. Melakukan intervensi sebelum penyakit dimulai, dengan menciptakan program penyaringan atau skrining publik.

Narasumber diskusi:
DR dr. Zakiudin Munasir SpAK
Dewan Penasehat Marisza Cardoba Foundation

I LOVE TO LEARN
WAG KELUARGA LDHS
Sabtu, 12 Agustus 2017
Jam 14.00-16.00 WIB

LDHS Pilar no. 4 : Terus Belajar

 

Leave a comment